Sastra Sarana Efektif
Diplomasi, Jangan Remehkan
Eddi Santosa - detikNews
Senin, 07/05/2012
19:08 WIB
Jakarta
Penulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata, juga
mengulas peran sastra dalam diplomasi. Seperti dituturkan Annisa
Paramita dari Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI
kepada detikcom, Senin (7/5/2012).
Dalam pandangan Andrea Hirata, belum banyak diplomat Indonesia yang berani membawa karya sastra bangsanya ke luar negeri. Padahal, sastra bisa menjadi sebuah sarana sangat efektif untuk mempromosikan Indonesia.
Laskar Pelangi, misalnya, telah diterbitkan di 24 negara dan dalam waktu dekat akan diterbitkan pula di Amerika Serikat oleh Farrar, Straus and Giraux (FSG), penerbit terbaik di dunia yang telah menerbitkan 22 karya pemenang nobel.
Dengan kata lain, novel Laskar Pelangi yang menggambarkan kebudayaan Belitung dengan kemajemukan etnisnya telah memberi kabar kepada dunia tentang toleransi antaretnis dan pemeluk agama di Indonesia.
“Saya pernah diundang ke acara di sebuah toko buku di Amerika Serikat. Penontonnya membludak. Setelah selesai acara, ada peserta yang bertanya tentang Indonesia. Jangan pernah meremehkan kekuatan karya sastra," ujar Andrea.
Namun demikian, Andrea menekankan apabila diplomat ingin membawa sastra sebagai alat diplomasi, maka diplomat harus bisa memahami seperti apakah perkembangan sastra di luar sana. Dia juga menyayangkan perselisihan di antara sastrawan Indonesia, karena hal ini jelas menghambat daya saing sastra Indonesia di dunia internasional.
Menjawab pertanyaan diplomat muda Arief Ilham Ramadhan mengenai peran apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah untuk mempromosikan Indonesia dengan sastra, Andrea Hirata menjawab bahwa banyak hal bisa dilakukan oleh pemerintah, contohnya reading session, literature day atau launching buku.
Diskusi selama dua jam dalam suasana hangat dan akrab itu disempurnakan oleh Andrea dengan memetik gitar akustiknya mendentingkan nada-nada "Negeri Laskar Pelangi”, sebuah lagu yang menceritakan kerinduan Andrea terhadap kampung halamannya.
Suara bening Meda, seorang penyanyi muda berbakat, mengantarkan peserta untuk berkhayal tentang keindahan Belitung. Pantainya yang berpasir putih, lautnya yang bening, karang-karangnya yang kokoh dan langit birunya yang dihiasi pelangi menawan hati.
Sambil tersenyum, Andrea pun menutup diskusi malam itu dengan berkata, ”Agar nanti ketika di negeri orang, teman-teman tidak lupa mengenalkan kampung halaman saya, Pulau Belitong yang indah,”
Azis Nurwahyudi salah seorang diplomat penggagas kelompok diskusi ini menginformasikan bahwa selain Andrea Hirata, sutradara film Riri Riza juga pernah bicara di forum ini. Ke depannya juga akan diundang para sineas muda, pemusik dan seniman lainnya. (Selesai)
Dalam pandangan Andrea Hirata, belum banyak diplomat Indonesia yang berani membawa karya sastra bangsanya ke luar negeri. Padahal, sastra bisa menjadi sebuah sarana sangat efektif untuk mempromosikan Indonesia.
Laskar Pelangi, misalnya, telah diterbitkan di 24 negara dan dalam waktu dekat akan diterbitkan pula di Amerika Serikat oleh Farrar, Straus and Giraux (FSG), penerbit terbaik di dunia yang telah menerbitkan 22 karya pemenang nobel.
Dengan kata lain, novel Laskar Pelangi yang menggambarkan kebudayaan Belitung dengan kemajemukan etnisnya telah memberi kabar kepada dunia tentang toleransi antaretnis dan pemeluk agama di Indonesia.
“Saya pernah diundang ke acara di sebuah toko buku di Amerika Serikat. Penontonnya membludak. Setelah selesai acara, ada peserta yang bertanya tentang Indonesia. Jangan pernah meremehkan kekuatan karya sastra," ujar Andrea.
Namun demikian, Andrea menekankan apabila diplomat ingin membawa sastra sebagai alat diplomasi, maka diplomat harus bisa memahami seperti apakah perkembangan sastra di luar sana. Dia juga menyayangkan perselisihan di antara sastrawan Indonesia, karena hal ini jelas menghambat daya saing sastra Indonesia di dunia internasional.
Menjawab pertanyaan diplomat muda Arief Ilham Ramadhan mengenai peran apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah untuk mempromosikan Indonesia dengan sastra, Andrea Hirata menjawab bahwa banyak hal bisa dilakukan oleh pemerintah, contohnya reading session, literature day atau launching buku.
Diskusi selama dua jam dalam suasana hangat dan akrab itu disempurnakan oleh Andrea dengan memetik gitar akustiknya mendentingkan nada-nada "Negeri Laskar Pelangi”, sebuah lagu yang menceritakan kerinduan Andrea terhadap kampung halamannya.
Suara bening Meda, seorang penyanyi muda berbakat, mengantarkan peserta untuk berkhayal tentang keindahan Belitung. Pantainya yang berpasir putih, lautnya yang bening, karang-karangnya yang kokoh dan langit birunya yang dihiasi pelangi menawan hati.
Sambil tersenyum, Andrea pun menutup diskusi malam itu dengan berkata, ”Agar nanti ketika di negeri orang, teman-teman tidak lupa mengenalkan kampung halaman saya, Pulau Belitong yang indah,”
Azis Nurwahyudi salah seorang diplomat penggagas kelompok diskusi ini menginformasikan bahwa selain Andrea Hirata, sutradara film Riri Riza juga pernah bicara di forum ini. Ke depannya juga akan diundang para sineas muda, pemusik dan seniman lainnya. (Selesai)




0 komentar:
Posting Komentar