Tanya Ku

Add caption
dalam sebuah kesendirian ku bertanya
bertanya yang selalu tak dapatkan jawabnya
pertanyaan yang berjubel dalam sanubari ku
membuat ku selalu merasa ingin segera dapatkan jawabnya
sebenarnya pokok dari sebuah pertanyaan ku hanyalah
"dapatkah aku masuk ke Surga-Mu?"

Semua tentang Sastra: Seni & Penguasa

Seni dan Penguasa (Sebuah Patronase Menggelisahkan)


Seni dan Penguasa
(Sebuah Patronase Menggelisahkan)

Oleh Januario Gonzaga
Berkarya di Paroki Santa MariaAssumpta, Kupang
           
Mungkin karena sejarah sastra memiliki tokoh besar Sartre atau Nietzsche atau Camus, maka pemerintah berdingin-dingin saja sikap menanggapi mereka yang berkoar-koar bagai martir sastra. Bapak Yohanes Sehandi sebagai tokoh yang tak kenal lelah mempropagandakan paradigma masyarakat tentang pentingnya sastra, juga terbentur pada dukungan pihak ini. Karena itu, saya merasa perlu mengikutsertakan pemerintah yang tertidur pulas pada bantal-bantal gelisah atas kritik pedas Arswendo Atmowiloto di Rezim Orde Baru, atau cacimaki puitik Mochtar Lubis buat para birokrat.
Perkenalan dengan pemerintah atau lebih tepat penguasa adalah mencabut hak berandai tentang kaum sastrawan yang ke kiri-kirian. Dengan semikian, Albert Camus, sang peraih nobel sastra yang mendeklarasikan pembangkangan melalui novelnya the outsider menjadi gerbang yang membawa masuk segenap aspirasi martir-martir sastra di NTT ini. Kalau penguasa berkehendak, maka sastra bisa menjadi alat untuk merintis jalan bagi diskusi-diskusi politik yang bersifat ideologis serta mengantarai dialog antara kaum penguasa dan kaum marginal. Demikianlah sebenarnya sastra pemberontakan mendapatkan lagi licensia poetica-nya yang murni sebagai kata yang adalah palang pintu nurani bangsa.
Namun, pertama-tama, mengutip pendapat guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono yang dilontarkan dalam Seminar Internasional Kesastraan bertema “Sastra dan Negara,” penguasa berpetan penting untuk membantu perkembangan kesusastraan dengan memberikan keleluasaan bagi karya para sastrawan. Keleluasaan itu diharapkan akan bisa membuka peluang kemunculan karya-karya sastra yang berharga. Kelak karya itu akan menjadi kekayaan yang bisa diwariskan pada anak cucu. Jadi, penguasa bukannya mendikte gerak sastrawan, melainkan memberikan dukungan atau (menjadi) patronase.

Aktor Seni dan Fakta
            Akhir-akhir ini meledak hasrat sejumlah anak muda Kota Kupang untuk berkumpul dan merakit ide-ide kreatif. Di sejumlah jalan Kota Kupang kita menemui aktivitas remaja-remaja dengan goyangan suffle dan dance. Di taman kebanggaan pemerintah, Taman Nostalgia, berkibar bendera dari rumah-rumah sastra yang ada di Kota Kupang, khususnya. Sering pada malam-malam minggu selalu terisi panggung rakyat di Taman Nostalgia. Dan yang paling berkesan ialah aneka atraksi panggung yang dipertunjukkan oleh kelompok sastra di Kota Kupang.
            Pada tahun 2007 lalu, Komunitas Utan Kayu menggelar Seminar Seni Pertunjukan Indonesia Kini dengan tema “Masalah Produksi dan Capaian Estetik” di Teater Utan Kayu, Jakarta. Iming-iming komunitas ini hanyalah untuk mengkritik ribuan seniman kota yang semakin minim produksi seninya. Persoalan ini tentu jauh berbeda dengan kita di NTT. Selain karena persentuhan yang terlambat dengan seni pertunjukan, juga pemilik dan peminat seni bersastra minim. Di kota kita ini, gelora produksi seni semakin tinggi, namun jumlah komunitas belum sebanyak yang diharapkan. Beberapa komunitas yang berandil pada mati-hidupnya seni sastra dan seni pertunjukan tercatat, antara lain Komunitas Rumah Poetica, Komunitas Sastra Ledalero, Laskar Sastra Kupang, Komunitas Sastra Seminari Tinggi Santo Mikhael, Rumah Teater SMA N 1, Komunitas Sastra Seminari Menengah Santo Rafael, dan sejumlah pemerhati sastra  yang kusebut sebagai martir sastra.
            Krisis terhebat di Provinsi Cendana ini adalah fluktuasi responsif dari masyarakat dan pemerintah atas karya seni. Sampai denga saat ini belum ada satu wadah yang merangkum gerak para seniman di kota, selain komunitas-komunitas dadakan demi sambut-menyambut sebuah perayaan  kenegaraan atau kunjungan tamu Negara dan partai. Hal memilukan dibuat oleh pemerintah ketika menggunakan atribut-atribut seni untuk menghasilkan uang, untuk menarik para turis, untuk hiburan saat upacara bendera, dan untuk hiburan pada pertemuan-pertemuan. Sungguh malang nasib para seniman. Harga yang dibayar adalah “harga lelucon,” harga yang tidak manusiwi diterima atas keringat dan air mata.
            Mengapa pelaku dan karya seni tunduk saja pada kaum penguasa? Apakah Anda setuju saja ketika melihat sebuah tarian Jai yang susah-susah dipentaskan lantars dibayar dengan seratus lima puluh ribu dengan alasan untuk uang make-up dan bemo? Apakah Anda puas karena dengan demikian Anda telah dihargai? Oh, tidak! Saat kematian seni di kota kita semakin mendekat sebelum ia tumbuh dewasa. Kaum tiran sedang memonopoli laju seniman.
            Aktor seni di lain sisi, juga boleh dibilang, belum tiba pada kesadaran akan entitas dari estetika seni yang utuh. Memang ini secara in se, bukan sepenuhnya kesalahan aktor seni. Perilaku ini tumbuh oleh sebab orientasi seni yang dialihfungsikan oleh kaum kita yang pongah dan suka menulis dengan mulutnya sendiri dan senang memuaskan keinginannya. Dalam opininya Dr. phil Norbertus Jegalus, MA di harian Flores Pos (24/11/2011), beliau sempat menyinggung hubungan antara sastra dan kapitalis. Saya setuju dengan pendapat doktor filsafat tersebut. Memang secara tak disengajai, kita yang berkehendak terlibat dalam peran seni apa saja, sedang dimanipulasi oleh penguasa dan kaum bermodal (kapitalis). Menurut saya, yang paling mengalami tragedi ini sebagai bukan sebuah tragedi adalah kelompok-kelompok “paduan suara.” Hampir pasti biaya hidup dan anggaran rumah tangga menjadi dasar sebelum mereka membunyikan notasi-notasi dari sebuah partitur teks. Sebuah pencaplokan.

Penguasa, Cobalah Berandil!
            Seniman itu seakan-akan adalah “pelacur suci,” seperti film dokumenter Prostitutes of God yang dikarang oleh mantan wartawan The Independent, Sarah Harris. Pelacur suci adalah sekumpulan pelacur kuil di India, Devadasi, yang adalah gadis-gadis muda yang dipersembahkan sejak kecil kepada satu dewa Hindu, namun mereka menjalani profesi pekerja seks itu untuk menyokong kehidupan keluarga mereka. Jadi, kehidupan rumah tangga seniman ditentukan oleh besar-kecilnya fee yang diperoleh dari sebuah karya atau pertunjukan. Dan jalan pertunjukan adalah jalan menelanjangi diri sambil memuntahkan libido-libido purba yang pada banyak pejabat berduit membuat mata terbelalak.
            Sesungguhnya, letak semua ketidaksesuaian ini ialah dalam metode dan alur pembanguna SDM yang dipelopori oleh pemerintah. Seni sebagai satu bentuk pemberdayaan SDM mengalami pasang surut oleh sebab pemerhati, yakni pemerintah mengesampingkan perhatiannya. Geliat sastra dan seni pertunjukan diakomodir selama cara dan tujuannya mendukung program-program pemerintah atau untuk menyemarakkan kampanye-kampanye partai tertentu. Di daerah ini tentu akan menjadi lebih baik kalau sokongan pemerintah tidak sekadar untuk “memperkosa” seni melainkan untuk “menyelamatkan” seni dan seniman.
            Di beberapa daerah, misalnya Bali dan Jakarta, mereka menyiapkan wadah khusus untuk menampung para seniman melalui festival-festival, misalnya Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Sayembara Menulis Puisi Harian Bali Post, Sayembara Film Dokumenter. Atau yang di Malang, Festival Seni Ukir dan Seni Pahat. Atau juga Temu Sastrawan Indonesia di Ternate (2011) yang lalu. Rahasia keberhasilan penyelenggaraan ini terletak pada “sokongan pemerintah” sebagai pemerhati yang bukan sekadar pemakai jasa.
            Beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah, antara lain mengadakan pertemuan sastra tingkat provinsi, pertemuan seniman pertunjukan tingkat provinsi, dengan tujuan untuk mencari dan menemukan mana saja unsur kreatif yang dimiliki masyarakat NTT untuk dilestarikan. Follow up dari pertemuan ini harus dilanjutkan dengan pembentukan Wadah Seniman Provinsi NTT. Wadah ini terdiri dari dua bentuk, yaitu wadah (organisasi) seniman dan wadah (sarana) media berseni, dalam bidang sastra, misalnya.
            Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan diharapkan mengadakan Temu Sastrawan NTT, Sayembara Menulis Tahunan, dan usaha menerbitkan majalah sastra dan budaya NTT. Itulah  sumbangan Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten/Kota di NTT yang jika dimanut dan dijalankan, maka kita tidak akan lagi ketinggalan kereta seni yang selama ini banyak dicederai oleh kita sekalian. *
(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 21 Januari 2012). 

Semua tentang Sastra: Tips dari Andrea Hirata


Andrea Hirata Berbagi Tips Menulis dengan Diplomat Muda

Eddi Santosa - detikNews
Senin, 07/05/2012 16:46 WIB

Jakarta Penulis gemilang yang antara lain telah menghasilkan karya tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata, berbagi tips dengan para diplomat muda Indonesia. Seperti dituturkan Annisa Paramita dari Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI kepada detikcom, Senin (7/5/2012).

Jakarta dan kemacetan tampaknya telah menjadi saudara tak terpisahkan. Kemacetan yang semakin tidak bisa diprediksi menyebabkan berbagai kegiatan terpaksa molor karena peserta ataupun pembicara terjebak dalam lalulintas yang padat tidak bergerak.

Demikian halnya yang terjadi dalam acara ”Ngobrol Bareng Andrea Hirata” yang diselenggarakan secara informal oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di kantor Kemenlu RI, Rabu (2/5/2012).

Gerimis yang turun di petang hari telah sedikit merepotkan perjalanan Andrea Hirata dan menyebabkan 25 orang diplomat muda Indonesia harus menunggu. Akan tetapi, semua itu terbayarkan ketika Andrea tiba dengan memancarkan semangat menggebu-gebu.

Sebagai seorang penulis yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, Andrea Hirata sangat sederhana dan bersahaja. Malam itu, dia tampil dengan pakaian khasnya: kemeja loose, jeans, syal di leher, dan, tidak ketinggalan, topi seniman hitam yang menutupi rambut ikalnya. Senyum sumringah yang ditebarkannya membuat suasana menjadi hangat.

Memulai acara dengan sapaan ramah dan permintaan maaf atas keterlambatannya, Andrea kemudian menyatakan antusiasmenya untuk menjadi pembicara dalam acara ini.

”Ketika saya mendapat undangan untuk mengisi diskusi yang terdiri dari kelompok kecil dan unik, saya langsung menyatakan saya bersedia. Bagi saya, dengan berbagi pengalaman dalam acara ini, saya bisa memberikan sebuah bekal masa depan untuk diplomat muda Indonesia,” Cetus Andrea.

Setelah itu, dipandu oleh Direktur Kerjasama Teknik Ibu Siti Nugraha Mauludiah, para peserta memperkenalkan diri dan menceritakan alasan kehadiran mereka dalam acara ini. Ternyata banyak di antara peserta yang memiliki pengalaman dan bakat menulis namun tidak terasah dengan optimal.

Hal inilah yang kemudian menuntun menuju pembahasan mengenai How to be a Good Writer. Begini paparan Andrea Hirata selanjutnya (Bersambung).

Semua tentang Sastra: Sastra....

 
Sastra Sarana Efektif Diplomasi, Jangan Remehkan
Eddi Santosa - detikNews
Senin, 07/05/2012 19:08 WIB 

Jakarta Penulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata, juga mengulas peran sastra dalam diplomasi. Seperti dituturkan Annisa Paramita dari Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI kepada detikcom, Senin (7/5/2012).

Dalam pandangan Andrea Hirata, belum banyak diplomat Indonesia yang berani membawa karya sastra bangsanya ke luar negeri. Padahal, sastra bisa menjadi sebuah sarana sangat efektif untuk mempromosikan Indonesia.

Laskar Pelangi, misalnya, telah diterbitkan di 24 negara dan dalam waktu dekat akan diterbitkan pula di Amerika Serikat oleh Farrar, Straus and Giraux (FSG), penerbit terbaik di dunia yang telah menerbitkan 22 karya pemenang nobel.

Dengan kata lain, novel Laskar Pelangi yang menggambarkan kebudayaan Belitung dengan kemajemukan etnisnya telah memberi kabar kepada dunia tentang toleransi antaretnis dan pemeluk agama di Indonesia.

“Saya pernah diundang ke acara di sebuah toko buku di Amerika Serikat. Penontonnya membludak. Setelah selesai acara, ada peserta yang bertanya tentang Indonesia. Jangan pernah meremehkan kekuatan karya sastra," ujar Andrea.

Namun demikian, Andrea menekankan apabila diplomat ingin membawa sastra sebagai alat diplomasi, maka diplomat harus bisa memahami seperti apakah perkembangan sastra di luar sana. Dia juga menyayangkan perselisihan di antara sastrawan Indonesia, karena hal ini jelas menghambat daya saing sastra Indonesia di dunia internasional.

Menjawab pertanyaan diplomat muda Arief Ilham Ramadhan mengenai peran apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah untuk mempromosikan Indonesia dengan sastra, Andrea Hirata menjawab bahwa banyak hal bisa dilakukan oleh pemerintah, contohnya reading session, literature day atau launching buku.

Diskusi selama dua jam dalam suasana hangat dan akrab itu disempurnakan oleh Andrea dengan memetik gitar akustiknya mendentingkan nada-nada "Negeri Laskar Pelangi”, sebuah lagu yang menceritakan kerinduan Andrea terhadap kampung halamannya.

Suara bening Meda, seorang penyanyi muda berbakat, mengantarkan peserta untuk berkhayal tentang keindahan Belitung. Pantainya yang berpasir putih, lautnya yang bening, karang-karangnya yang kokoh dan langit birunya yang dihiasi pelangi menawan hati.

Sambil tersenyum, Andrea pun menutup diskusi malam itu dengan berkata, ”Agar nanti ketika di negeri orang, teman-teman tidak lupa mengenalkan kampung halaman saya, Pulau Belitong yang indah,”

Azis Nurwahyudi salah seorang diplomat penggagas kelompok diskusi ini menginformasikan bahwa selain Andrea Hirata, sutradara film Riri Riza juga pernah bicara di forum ini. Ke depannya juga akan diundang para sineas muda, pemusik dan seniman lainnya. (Selesai)

Semua tentang Sastra: KMM

Koran TEMPO, 30 April 2006
Kegundahan Manusia Metropolis
Judul Fight Club
Penulis Chuck Palahniuk
Penerjemah Budi Warsito
Isi 285 hlm.
Penerbit Jalasutra, 2006
Sastra adalah dunia imajinasi. Tapi tak ada karya sastra paling imajiner yang sanggup memiliki wilayah otonomi mutlak, subjektif, bahkan tiada sangkut pautnya dengan individu atau kalangan tertentu seperti perkataan Adolfo Sanchez Vasquez “sastra lahir dalam kekinian dan kedisinian yang konkret” (Art and Society, Merlin Press, London, 1973). Memang Vasquez dalam buku tersebut menuliskan pandangannya tentang seni (dalam konteks ini adalah sastra) dari kacamata Marxisme. Namun ada satu hal yang mewakili pandangan manapun: karya sastra tak mungkin lahir dari ruang kosong.
Kira-kira seperti itulah novel debutan Charles Michael Palahniuk atau Chuck Palahniuk ini lahir. Alumnus jurnalistik Universitas Oregon yang aktif sebagai jurnalis lepas ini lahir memotret sisi gelap sosok manusia kota di tengah generasi yang terjerumus modernisme semu. Tanda zaman yang seolah-olah baik adanya tapi karena pergerakan yang cepat, kejujuran dan sisi manusiawi menjadi hilang maknanya.
Fight Club (selanjutnya disebut FC) mengisahkan “aku” seorang pegawai biasa yang jenuh dengan rutinitas. Untuk mengalihkan kebosanan ia tiap malam masuk support group atau sharing problem orang-orang dengan masalah kesehatan. Semula keinginannya masuk grup untuk mengalihkan penyakit insomnia-nya. Berbagai obat dan cara tak berhasil. Sang dokter (yang mungkin juga sudah kehabisan akal) menyarankan untuk mengetahui seperti apa itu rasa sakit dengan melihat, misalnya, rasa sakit penderita kanker otak. Maka, masuklah “aku” ke berbagai support group. Misalnya hari Jumat ia mengikuti grup penderita tuberkulosis, hari Rabu tumor kulit, dan Senin penyakit leukemia. Keasyikannya mengikuti berbagai grup itu menemuinya pada kebohongan. Berkali-kali ia menjumpai cerita dalam support group itu ternyata hanya isapan jempol, bahkan dilebih-lebihkan. Tak hanya itu, ia menemui Marla, seorang cewek yang juga gemar mengikuti berbagai support group hadir berkali-kali dengan nama lain, persis seperti “aku”.
“Aku” kemudian menjumpai Tyler yang sepertinya memberi solusi daripada tiap hari menyaksikan kebohongan: mengikuti ada tinju rahasia (fight club). Dalam grup ini tak ada kebohongan: pokoknya bertarung, lepaskan seluruh beban dalam otak! Aturannya mudah, jangan cerita kepada siapapun tentang grup ini. Sebuah keputusan yang edan memang. Bahkan ketika di pagi harinya di kantor, walau dengan wajah babak belur, “aku” lama-lama merasa nyaman. Cerita makin berkembang dengan kejenuhan “aku” dalam grup ketika setelah mengikuti FC begitu banyak orang-orang dalam kehidupan biasa (setidaknya menurut “aku”) ternyata juga anggota FC. Ia heran, bukankah ada aturan tak boleh membicarakan adu tinju gelap ini dengan siapapun? “Aku” kembali gelisah dan sulit memercayai kebenaran lagi. Sosok Tyler menawarkan hal lain, membuat sabun dari lemak manusia dan mengajaknya dalam grup Project Mayhem.
Chuck memang lihai mengolah FC. Memang dalam FC tak ditemui penjelasan latar belakang siapa “aku” karena alur novel ini bergerak maju terus. Tapi, kelihaiannya mengolah FC membuat pembaca tak merasa perlu mengutak-atik siapa “aku” sehingga dapat menghanyutkan kita kepada peristiwa-peristiwa menggetarkan. Uniknya, penggambaran secara detail setting cerita pun jadi tak begitu penting karena dari novel ini terbetik suasana gelisah serta muram dalam kalimat yang singkat.
Sangat jelas aroma eksistensialisme ada di sini meski tanpa metafora karena Chuck adalah tipe penulis tanpa narasi yang berlarat-larat. Tengoklah kalimat (h.81): “Di Hotel Pressman, jika kau bisa bekerja malam hari akan menyulut kebencianmu pada masalah kasta,” kata Tyler. Yeah, kataku, terserahlah. “Mereka membuatmu memakai dasi kupu-kupu, kemeja putih, dan celana panjang hitam,” Dari kalimat berikut sudah tersirat anggapan sinis Tyler kepada kesibukan kota yang mengharuskan menjadi orang lain, bukan diri sendiri, juga strata sosial tak mengenakkan bekerja di hotel. Dan lebih gilanya lagi, di akhir novel kita bakal kaget menemui ending bahwa tokoh “aku” sebagai manifestasi sisi gelap manusia metropolis itu mengalami krisis identitas yang parah, “penyakit” lebih parah ketimbang “main-main” atau insomnia saja: ada sosok lain dalam dirinya!
Kegundahan FC yang naskah aslinya semula berjudul Insomnia: If You Lived Here, You'd Be Home Already memang beda misalnya jika kita membandingkan dengan tokoh yang diperankan Robert de Niro dalam film Taxi Driver, keedanan di balik wajah malaikat dalam film 8MM, novel Catcher in The Rye, American Psycho, atau Vernon God Little walau dalam karya-karya tersebut tersimpan ironi tokoh sejenis: kegundahan manusia metropolis. Kalau rata-rata mereka nyaris berputar hanya pada konflik pribadi atas ketidakpuasannya menghadapi semacam pranata sosial yang mapan, dalam FC, kegundahan tersebut seolah-olah berhasil menemui solusinya.
Meski kegilaan FC bisa jadi dilebih-lebihkan sebagai syarat memikatnya sebuah fiksi, Chuck menemukan kemungkinan tak dikatakan bahwa dalam pergerakan kota yang mapan tetap ada simbol kegelisahan, orang-orang yang kalah atau terperosok untuk menjadi “yang lain”, sebuah manifestasi bahwa manusia dalam kodratnya sebagai homo ludens- pribadi yang suka bermain-main- bisa terjebak pada kodratnya sendiri: menjadi korban dengan terbelenggu pada permainannya atau statis setelah menemukan sesuatu yang menyamankan dirinya. Tokoh Tyler, Marla, dan “aku” dalam FC menyiratkan hal pertama yaitu selain tenggelam dalam kegundahan tak bertepi, ia seperti terangsang menjadi liar, banal, bahkan subversif dalam tatanan hidup yang mapan.
Penerjemahan FC cukup baik. Alur novel yang cepat berhasil dihadirkan dengan lancar walau terbitan edisi bahasa Indonesianya terbilang telat. Filmnya (produksi 1999 oleh sineas David Fincher) yang juga tak kalah kuat dengan novelnya ini bahkan sempat beredar di Indonesia enam tahun lalu.*

Semua tentang Sastra: Sastrawan 4 nama

Cybersastra, Juni 2001
Ray Rizal,
Sastrawan Empat Nama
Kalau ada pertanyaan siapakah pengarang yang sering kali bergonti-ganti nama? Jawabnya adalah Ray Rizal. Penulis yang punya empat nama samaran ini (Chandra Humana, Zetra, Ray Fernandez dan terakhir Ray Rizal) terlahir dengan nama asli Djufrizal bin Zulkifli di Singkarak, Sumatera Barat 7 Februari 1955. Entah kenapa sampai saat ini sebagai cerpenis sosok Ray Rizal seperti tenggelam dibanding nama-nama cerpenis yang sejaman dengannya. Misalnya Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho bahkan sampai Satyagraha Hoerip sendiri yang pernah memasukkan salah satu cerpennya (judul Pengakuan) ke dalam buku antologi Cerita Pendek Indonesia terbitan Gramedia, 1986.
Meski terhitung tidak menonjol dibanding nama-nama diatas Ray tergolong cerpenis berciri khas dalam khasanah kesusasteraan Indonesia modern. Dalam karier kepenulisannya Ray tergolong penulis serba bisa. Ia pernah menulis dua novel anak Desaku Ermera dan Matahari Di Atas Timbunan Sampah. Kedua novel tersebut dijadikan proyek buku Inpres tahun 1984 dan 1985. Cerpen-cerpennya kebanyakan bicara tentang masalah sosial dibalut dongeng absurd, surealis bahkan horor seperti ditulis oleh Sapardi Djoko Damono dalam pengantar antologi cerpen Lidah (penerbit Grafikatama Jaya, 1994). Novelnya sendiri jauh beda dengan cerpen-cerpennya, bahkan bernuansa roman (Tanah Perbatasan).
Namun dibalik kelebihannya menulis dengan beragam gaya menurut Sapardi dongeng dan mimpi dalam cerpennya kurang dalam. Akibatnya kadar sentimentalitasnya terasa seperti cerpen koran kebanyakan. Mungkinkah karena cerpen-cerpennya kebanyakan digarap seperti itu namanya jadi kurang mencuat dalam kesusastraan Indonesia modern? Bisa jadi.
Sebagai penulis Ray Rizal terbilang sangat produktif. Artikel seni budayanya banyak dimuat di Suara Karya, Horison, Suara Pembaruan dan Kompas. Dunia kepenulisan kreatif dirambahnya lewat cerpen dan novel. Selain itu ia juga menulis biografi pelukis Affandi (Affandi, Hari Sudah Tinggi). Bahkan menjelang kematiannya Ray ternyata masih meninggalkan "hutang" sejumlah delapan buku yang terdiri dari 2 biografi, kumpulan cerpen dan beberapa novel yang belum terselesaikan. Semasa hidupnya Ray juga aktif menulis artikel budaya di berbagai media di samping pekerjaan utamanya sebagai wartawan Suara Karya dan penjaga rubrik seni budaya koran mingguan Mutiara (milik grup Suara Pembaruan/Sinar Harapan).
Ray menulis semenjak remaja di Singkarak. Karya–karya awalnya berupa cerpen dan puisi dimuat di harian Singgalang dan Haluan. Sebenarnya semenjak awal ia didesak ayahnya untuk menjadi polisi (bapak Ray seorang polisi). Namun buku-buku karya STA (Sutan Takdir Alisyahbana), Hamka dan Taslim Ali ia akrabi dengan baik sehingga tekadnya memilih profesi penulis semakin bulat. Ekspresi literernya semakin menjadi-jadi setelah bergaul dekat dengan Rusli Marzuki Satria, seorang penyair Minang ternama.
Lewat nama Ray Fernandez ia memulai karirnya sebagai wartawan Suara Karya. Cerpennya yang pertama kali dimuat di media massa nasional, Pengakuan akhirnya dimasukkan dalam buku antologi Cerita Pendek Indonesia (Gramedia, 1986) dengan editor almarhum Satyagraha Hoerip. Sebagai sastrawan Ray termasuk datang dengan semangat berbeda. Ini terlihat dari gaya berceritanya yang lugas, ditunjang dengan data-data yang keras dan penyimpulan sederhana menjadi ciri khas cerpen Ray. Dalam proses kreatifnya, sastrawan Mochtar Lubis adalah figur yang berpengaruh dalam dirinya.
Pengamatannya yang kuat sebagai wartawan membuktikan keberpihakannya dengan semua kalangan di manusia terdapat di dalamnya. Tengoklah cerpennya tentang pelukis yang menusuk dadanya sendiri (cerpen Lukisan Kematian), tentang sutradara yang menembak kepalanya sendiri (cerpen Dalang), tentang pemulung yang mempertahankan tanah miliknya (cerpen Tanah Bujursangkar) atau tentang pemimpin yang banyak mulut (cerpen Lidah).
Uniknya gaya absurd maupun surealis tidak ditunjukkannya dalam novel. Novelnya Tanah Perbatasan dan Lonceng Kematian malah lebih realis, humanis dan bahkan sedikit romantis. Hal ini lumrah karena sebagai penulis novel ia merasa lebih lapang menuangkan ekspresinya ketimbang cerpen yang baginya kadang patah begitu saja di tengah atau selesai begitu saja. Oleh budayawan Radhar Panca Dahana kedua novelnya dipuji karena memiliki kekuatan pyro teknik yang membawa prosasis macam Albert Camus, Arun Joshi dan Wang Meng.
Ray yang pernah kuliah di Fakultas Filsafat Unas, Jakarta ini pernah membuat pernyataan mengejutkan para koleganya: mundur selamanya dari dunia kewartawanan. Hal ini dilakukannya karena sebagai jurnalis Ray telah mengamati kenyataan yang baginya tak cukup kuat diangkat ke media massa manapun. Media massa baginya tak leboh dari sekedar "fiksi yang diberitakan". Tentu saja pendapat ini muncul karena Ray semasa menjadi wartawan di era Orde Baru yang notabene gemar menutupi fakta. Oleh karena itu Ray memutuskan mundur total dari dunia jurnalistik dan ingin sepenuhnya menulis fiksi. Baginya kemunduran dirinya dapat memacu proses kreatif untuk tetap menulis.
Setelah keluar dari dunia jurnalis Ray semakin produktif. Ia berhasil menulis enam buah buku yang sayangnya tidak sempat terselesaikan karena Ray keburu meninggal pada tanggal tanggal 7 Januari 1997. Meninggalnya Ray sungguh mengejutkan. Ia meninggal seperti tertidur ketika menumpang sebuah taksi. Sopir taksi yang membawanya mengira Ray ketiduran dalam perjalanan.
Kematiannya mendadak persis seperti tokoh-tokoh fiksi dalam cerpennya. Bedanya ia meninggal tidak dengan akhir yang tragis. Namun sebelum dirinya meninggal nampaknya pertanda kematian itu sudah muncul. Hal ini terlihat dalam buku kumpulan cerpennya yang terakhir berjudul Mayat Yang Kembali (terbitan Balai Pustaka, 1997). Cerpen-cerpen dalam kumpulan tersebut nyaris bercerita hal-hal serupa: selalu bermuara kepada kematian. *
Karya-karya Lengkap Ray Rizal
Desaku Ermera (1984, novel anak, Proyek Buku Inpres)
Matahari Di Atas Timbunan Sampah (1985, novel anak, Proyek Buku Inpres)
Pengakuan (1986, cerpen lepas masuk antologi Cerita Pendek Indonesia terbitan Gramedia).
Lukisan Terakhir (1990, kumpulan cerpen , terbitan Pustakakarya Grafikatama)
Affandi, Hari Sudah Tinggi (1990, biografi, terbitan Metro Pos)
Dalang (1991, kumpulan cerpen, terbitan Pustakarya Grafikatama)
Tanah Perbatasan (1991, novel, terbitan Pustakarya Grafikatama)
Lonceng Kematian (1992, novel, terbitan Pustakarya Grafikatama)
Lidah/Peti Mati (1994, dua cerpen lepas masuk dalam antologi cerpen Lidah terbitan Grafikatama Jaya, kata pengantar Sapardi Djoko Damono).
Mayat Yang Kembali (1997, kumpulan cerpen, terbitan Balai Pustaka).
catatan:
* Karya-karya di atas belum termasuk dua biografi dan enam buku yang belum sempat diselesaikan.
Ray Rizal dalam Kenangan
Kiprah Ray Rizal yang kini seakan terlupakan ternyata masih menyisakan kenangan manis diantara sastrawan. Berikut ini komentar tenatng almarhum mengenai karya maupun sosok pribadinya dari beberapa sastrawan yang berhasil dihimpun Cybersastra :
Eka Budianta (penyair, aktivis lingkungan hidup) : Hubungan kami unik. Bisa dikatakan dekat juga tidak. Kalau jauh tapi kok rasanya dekat. Mungkin karena zodiak kami sama sehingga tanpa sering-sering bersua kami sering menemui kecocokan dalam mengemukakan pendapat. Ray Rizal sering menulis tentang saya meskipun dia sendiri jarang bersua dengan saya. Dia juga banyak memberikan ruang buat saya mengirimkan karya cerpen/puisi ke majalah remaja yang pernah dikelolanya. Sayang, saya sudah lupa nama majalah yang ia kelola waktu itu. Kalau nggak salah sekitar tahun 1990-an semasa saya masih berkantor di Puspa Swara.
Sapardi Djoko Damono (penyair): Ray Rizal memang salah seorang cerpenis yang kuat dan potensial. Sayangnya ia sendiri kurang produktif dan intens dalam berkarya. Inilah yang menyebabkan dirinya sendiri tidak begitu menonjol dalam dunia cerpen Indonesia.
Ibnu Wahyudi (pengajar FIB Universitas Indonesia): Sebagai cerpenis sekaligus wartawan ia produktif sehingga sifat kewartawanan yang mementingkan realitas begitu menonjol dalam cerpen-cerpennya. Namun akibatnya karya-karyanya tidak menunjukkan keunikan sehingga kurang mampu berbicara tentang siapa dirinya. Karyanya belum menemukan semacam gaya khas sehingga tidak mengangkat dirinya dibanding cerpenis lain.

KEHILANGAN

Melihat kupu-kupu senja menangis
Mata besarnya terus meleleh
ada apa gerangan...

Mungkinkah dia kehilangan sayap
atau remuk hatinya karena kesetiaan?

Tak ada keceriaan hidup
Tak ada impian dan harapan
 
Tak adakah yang mau menolongnya?

Meski kupu-kupu senja telah remuk
Dia masih terlihat cantik
Ya, dia tetap cantik