Koran TEMPO, 30 April 2006
Kegundahan Manusia Metropolis
Judul Fight Club
Penulis Chuck Palahniuk
Penerjemah Budi Warsito
Isi 285 hlm.
Penerbit Jalasutra, 2006
Sastra
adalah dunia imajinasi. Tapi tak ada karya sastra paling imajiner yang
sanggup memiliki wilayah otonomi mutlak, subjektif, bahkan tiada sangkut
pautnya dengan individu atau kalangan tertentu seperti perkataan Adolfo
Sanchez Vasquez “sastra lahir dalam kekinian dan kedisinian yang
konkret” (Art and Society, Merlin Press, London, 1973). Memang
Vasquez dalam buku tersebut menuliskan pandangannya tentang seni (dalam
konteks ini adalah sastra) dari kacamata Marxisme. Namun ada satu hal
yang mewakili pandangan manapun: karya sastra tak mungkin lahir dari ruang kosong.
Kira-kira
seperti itulah novel debutan Charles Michael Palahniuk atau Chuck
Palahniuk ini lahir. Alumnus jurnalistik Universitas Oregon yang aktif
sebagai jurnalis lepas ini lahir memotret sisi gelap sosok manusia kota
di tengah generasi yang terjerumus modernisme semu. Tanda zaman yang
seolah-olah baik adanya tapi karena pergerakan yang cepat, kejujuran dan
sisi manusiawi menjadi hilang maknanya.
Fight Club (selanjutnya
disebut FC) mengisahkan “aku” seorang pegawai biasa yang jenuh dengan
rutinitas. Untuk mengalihkan kebosanan ia tiap malam masuk support group atau sharing problem orang-orang dengan masalah kesehatan. Semula keinginannya masuk grup untuk mengalihkan penyakit insomnia-nya. Berbagai
obat dan cara tak berhasil. Sang dokter (yang mungkin juga sudah
kehabisan akal) menyarankan untuk mengetahui seperti apa itu rasa sakit
dengan melihat, misalnya, rasa sakit penderita kanker otak. Maka,
masuklah “aku” ke berbagai support group. Misalnya hari Jumat ia
mengikuti grup penderita tuberkulosis, hari Rabu tumor kulit, dan Senin
penyakit leukemia. Keasyikannya mengikuti berbagai grup itu menemuinya
pada kebohongan. Berkali-kali ia menjumpai cerita dalam support group
itu ternyata hanya isapan jempol, bahkan dilebih-lebihkan. Tak hanya
itu, ia menemui Marla, seorang cewek yang juga gemar mengikuti berbagai support group hadir berkali-kali dengan nama lain, persis seperti “aku”.
“Aku”
kemudian menjumpai Tyler yang sepertinya memberi solusi daripada tiap
hari menyaksikan kebohongan: mengikuti ada tinju rahasia (fight club). Dalam
grup ini tak ada kebohongan: pokoknya bertarung, lepaskan seluruh beban
dalam otak! Aturannya mudah, jangan cerita kepada siapapun tentang grup
ini. Sebuah keputusan yang edan memang. Bahkan
ketika di pagi harinya di kantor, walau dengan wajah babak belur, “aku”
lama-lama merasa nyaman. Cerita makin berkembang dengan kejenuhan “aku”
dalam grup ketika setelah mengikuti FC begitu banyak orang-orang dalam
kehidupan biasa (setidaknya menurut “aku”) ternyata juga anggota FC. Ia
heran, bukankah ada aturan tak boleh membicarakan adu tinju gelap ini
dengan siapapun? “Aku” kembali gelisah dan sulit memercayai kebenaran
lagi. Sosok Tyler menawarkan hal lain, membuat sabun dari lemak manusia
dan mengajaknya dalam grup Project Mayhem.
Chuck
memang lihai mengolah FC. Memang dalam FC tak ditemui penjelasan latar
belakang siapa “aku” karena alur novel ini bergerak maju terus. Tapi,
kelihaiannya mengolah FC membuat pembaca tak merasa perlu mengutak-atik
siapa “aku” sehingga dapat menghanyutkan kita kepada
peristiwa-peristiwa menggetarkan. Uniknya, penggambaran secara detail setting cerita pun jadi tak begitu penting karena dari novel ini terbetik suasana gelisah serta muram dalam kalimat yang singkat.
Sangat
jelas aroma eksistensialisme ada di sini meski tanpa metafora karena
Chuck adalah tipe penulis tanpa narasi yang berlarat-larat. Tengoklah
kalimat (h.81): “Di Hotel Pressman, jika kau bisa bekerja malam hari
akan menyulut kebencianmu pada masalah kasta,” kata Tyler. Yeah, kataku,
terserahlah. “Mereka membuatmu memakai dasi kupu-kupu, kemeja putih,
dan celana panjang hitam,” Dari kalimat
berikut sudah tersirat anggapan sinis Tyler kepada kesibukan kota yang
mengharuskan menjadi orang lain, bukan diri sendiri, juga strata sosial
tak mengenakkan bekerja di hotel. Dan lebih gilanya lagi, di akhir novel
kita bakal kaget menemui ending bahwa tokoh “aku” sebagai
manifestasi sisi gelap manusia metropolis itu mengalami krisis identitas
yang parah, “penyakit” lebih parah ketimbang “main-main” atau insomnia
saja: ada sosok lain dalam dirinya!
Kegundahan FC yang naskah aslinya semula berjudul Insomnia: If You Lived Here, You'd Be Home Already memang beda misalnya jika kita membandingkan dengan tokoh yang diperankan Robert de Niro dalam film Taxi Driver, keedanan di balik wajah malaikat dalam film 8MM, novel Catcher in The Rye, American Psycho, atau Vernon God Little walau dalam karya-karya tersebut
tersimpan ironi tokoh sejenis: kegundahan manusia metropolis. Kalau
rata-rata mereka nyaris berputar hanya pada konflik pribadi atas
ketidakpuasannya menghadapi semacam pranata sosial yang mapan, dalam FC,
kegundahan tersebut seolah-olah berhasil menemui solusinya.
Meski
kegilaan FC bisa jadi dilebih-lebihkan sebagai syarat memikatnya sebuah
fiksi, Chuck menemukan kemungkinan tak dikatakan bahwa dalam pergerakan
kota yang mapan tetap ada simbol kegelisahan, orang-orang yang kalah
atau terperosok untuk menjadi “yang lain”, sebuah manifestasi bahwa
manusia dalam kodratnya sebagai homo ludens- pribadi yang suka bermain-main- bisa terjebak pada kodratnya sendiri: menjadi korban
dengan terbelenggu pada permainannya atau statis setelah menemukan
sesuatu yang menyamankan dirinya. Tokoh Tyler, Marla, dan “aku” dalam FC
menyiratkan hal pertama yaitu selain tenggelam dalam kegundahan tak
bertepi, ia seperti terangsang menjadi liar, banal, bahkan subversif
dalam tatanan hidup yang mapan.




0 komentar:
Posting Komentar