Cybersastra, Juni 2001
Ray Rizal,
Sastrawan Empat Nama
Kalau ada pertanyaan siapakah pengarang yang sering kali bergonti-ganti nama? Jawabnya adalah Ray Rizal. Penulis yang punya empat nama samaran ini (Chandra Humana, Zetra, Ray Fernandez dan terakhir Ray Rizal) terlahir dengan nama asli Djufrizal bin Zulkifli
di Singkarak, Sumatera Barat 7 Februari 1955. Entah kenapa sampai saat
ini sebagai cerpenis sosok Ray Rizal seperti tenggelam dibanding
nama-nama cerpenis yang sejaman dengannya. Misalnya Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho bahkan sampai Satyagraha Hoerip sendiri yang pernah memasukkan salah satu cerpennya (judul Pengakuan) ke dalam buku antologi Cerita Pendek Indonesia terbitan Gramedia, 1986.
Meski terhitung tidak menonjol dibanding nama-nama diatas Ray tergolong
cerpenis berciri khas dalam khasanah kesusasteraan Indonesia modern.
Dalam karier kepenulisannya Ray tergolong penulis serba bisa. Ia pernah
menulis dua novel anak Desaku Ermera dan Matahari Di Atas Timbunan Sampah.
Kedua novel tersebut dijadikan proyek buku Inpres tahun 1984 dan 1985.
Cerpen-cerpennya kebanyakan bicara tentang masalah sosial dibalut
dongeng absurd, surealis bahkan horor seperti ditulis oleh Sapardi Djoko Damono dalam pengantar antologi cerpen Lidah (penerbit Grafikatama Jaya, 1994). Novelnya sendiri jauh beda dengan cerpen-cerpennya, bahkan bernuansa roman (Tanah Perbatasan).
Namun dibalik kelebihannya menulis dengan beragam gaya
menurut Sapardi dongeng dan mimpi dalam cerpennya kurang dalam.
Akibatnya kadar sentimentalitasnya terasa seperti cerpen koran
kebanyakan. Mungkinkah karena cerpen-cerpennya kebanyakan digarap
seperti itu namanya jadi kurang mencuat dalam kesusastraan Indonesia
modern? Bisa jadi.
Sebagai penulis Ray Rizal terbilang sangat produktif. Artikel seni budayanya banyak dimuat di Suara Karya, Horison, Suara Pembaruan dan Kompas. Dunia kepenulisan kreatif dirambahnya lewat cerpen dan novel. Selain itu ia juga menulis biografi pelukis Affandi (Affandi, Hari Sudah Tinggi). Bahkan
menjelang kematiannya Ray ternyata masih meninggalkan "hutang" sejumlah
delapan buku yang terdiri dari 2 biografi, kumpulan cerpen dan beberapa
novel yang belum terselesaikan. Semasa hidupnya Ray juga aktif menulis
artikel budaya di berbagai media di samping pekerjaan utamanya sebagai
wartawan Suara Karya dan penjaga rubrik seni budaya koran mingguan Mutiara (milik grup Suara Pembaruan/Sinar Harapan).
Ray menulis semenjak remaja di Singkarak. Karya–karya awalnya berupa cerpen dan puisi dimuat di harian Singgalang dan Haluan.
Sebenarnya semenjak awal ia didesak ayahnya untuk menjadi polisi (bapak
Ray seorang polisi). Namun buku-buku karya STA (Sutan Takdir
Alisyahbana), Hamka dan Taslim Ali ia akrabi dengan baik sehingga
tekadnya memilih profesi penulis semakin bulat. Ekspresi literernya
semakin menjadi-jadi setelah bergaul dekat dengan Rusli Marzuki Satria, seorang penyair Minang ternama.
Lewat nama Ray Fernandez ia memulai karirnya sebagai wartawan Suara Karya. Cerpennya yang pertama kali dimuat di media massa nasional, Pengakuan akhirnya dimasukkan dalam buku antologi Cerita Pendek Indonesia (Gramedia, 1986) dengan editor almarhum Satyagraha Hoerip.
Sebagai sastrawan Ray termasuk datang dengan semangat berbeda. Ini
terlihat dari gaya berceritanya yang lugas, ditunjang dengan data-data
yang keras dan penyimpulan sederhana menjadi ciri khas cerpen Ray. Dalam
proses kreatifnya, sastrawan Mochtar Lubis adalah figur yang
berpengaruh dalam dirinya.
Pengamatannya
yang kuat sebagai wartawan membuktikan keberpihakannya dengan semua
kalangan di manusia terdapat di dalamnya. Tengoklah cerpennya tentang
pelukis yang menusuk dadanya sendiri (cerpen Lukisan Kematian), tentang sutradara yang menembak kepalanya sendiri (cerpen Dalang), tentang pemulung yang mempertahankan tanah miliknya (cerpen Tanah Bujursangkar) atau tentang pemimpin yang banyak mulut (cerpen Lidah).
Uniknya gaya absurd maupun surealis tidak ditunjukkannya dalam novel. Novelnya Tanah Perbatasan dan Lonceng Kematian
malah lebih realis, humanis dan bahkan sedikit romantis. Hal ini lumrah
karena sebagai penulis novel ia merasa lebih lapang menuangkan
ekspresinya ketimbang cerpen yang baginya kadang patah begitu saja di
tengah atau selesai begitu saja. Oleh budayawan Radhar Panca Dahana kedua novelnya dipuji karena memiliki kekuatan pyro teknik yang membawa prosasis macam Albert Camus, Arun Joshi dan Wang Meng.
Ray
yang pernah kuliah di Fakultas Filsafat Unas, Jakarta ini pernah
membuat pernyataan mengejutkan para koleganya: mundur selamanya dari
dunia kewartawanan. Hal ini dilakukannya karena sebagai jurnalis Ray
telah mengamati kenyataan yang baginya tak cukup kuat diangkat ke media
massa manapun. Media massa baginya tak leboh dari sekedar "fiksi yang
diberitakan". Tentu saja pendapat ini muncul karena Ray semasa menjadi
wartawan di era Orde Baru yang notabene gemar menutupi fakta. Oleh
karena itu Ray memutuskan mundur total dari dunia jurnalistik dan ingin
sepenuhnya menulis fiksi. Baginya kemunduran dirinya dapat memacu proses
kreatif untuk tetap menulis.
Setelah
keluar dari dunia jurnalis Ray semakin produktif. Ia berhasil menulis
enam buah buku yang sayangnya tidak sempat terselesaikan karena Ray
keburu meninggal pada tanggal tanggal 7 Januari 1997.
Meninggalnya Ray sungguh mengejutkan. Ia meninggal seperti tertidur
ketika menumpang sebuah taksi. Sopir taksi yang membawanya mengira Ray
ketiduran dalam perjalanan.
Kematiannya
mendadak persis seperti tokoh-tokoh fiksi dalam cerpennya. Bedanya ia
meninggal tidak dengan akhir yang tragis. Namun sebelum dirinya
meninggal nampaknya pertanda kematian itu sudah muncul. Hal ini terlihat
dalam buku kumpulan cerpennya yang terakhir berjudul Mayat Yang Kembali
(terbitan Balai Pustaka, 1997). Cerpen-cerpen dalam kumpulan tersebut
nyaris bercerita hal-hal serupa: selalu bermuara kepada kematian. *
Karya-karya Lengkap Ray Rizal
Desaku Ermera (1984, novel anak, Proyek Buku Inpres)
Matahari Di Atas Timbunan Sampah (1985, novel anak, Proyek Buku Inpres)
Pengakuan (1986, cerpen lepas masuk antologi Cerita Pendek Indonesia terbitan Gramedia).
Lukisan Terakhir (1990, kumpulan cerpen , terbitan Pustakakarya Grafikatama)
Affandi, Hari Sudah Tinggi (1990, biografi, terbitan Metro Pos)
Dalang (1991, kumpulan cerpen, terbitan Pustakarya Grafikatama)
Tanah Perbatasan (1991, novel, terbitan Pustakarya Grafikatama)
Lonceng Kematian (1992, novel, terbitan Pustakarya Grafikatama)
Lidah/Peti Mati (1994, dua cerpen lepas masuk dalam antologi cerpen Lidah terbitan Grafikatama Jaya, kata pengantar Sapardi Djoko Damono).
Mayat Yang Kembali (1997, kumpulan cerpen, terbitan Balai Pustaka).
catatan:
* Karya-karya di atas belum termasuk dua biografi dan enam buku yang belum sempat diselesaikan.
Ray Rizal dalam Kenangan
Kiprah
Ray Rizal yang kini seakan terlupakan ternyata masih menyisakan
kenangan manis diantara sastrawan. Berikut ini komentar tenatng almarhum
mengenai karya maupun sosok pribadinya dari beberapa sastrawan yang
berhasil dihimpun Cybersastra :
Eka Budianta (penyair,
aktivis lingkungan hidup) : Hubungan kami unik. Bisa dikatakan dekat
juga tidak. Kalau jauh tapi kok rasanya dekat. Mungkin karena zodiak
kami sama sehingga tanpa sering-sering bersua kami sering menemui
kecocokan dalam mengemukakan pendapat. Ray Rizal sering menulis tentang
saya meskipun dia sendiri jarang bersua dengan saya. Dia juga banyak
memberikan ruang buat saya mengirimkan karya cerpen/puisi ke majalah
remaja yang pernah dikelolanya. Sayang, saya sudah lupa nama majalah
yang ia kelola waktu itu. Kalau nggak salah sekitar tahun 1990-an semasa
saya masih berkantor di Puspa Swara.
Sapardi Djoko Damono (penyair):
Ray Rizal memang salah seorang cerpenis yang kuat dan potensial.
Sayangnya ia sendiri kurang produktif dan intens dalam berkarya. Inilah
yang menyebabkan dirinya sendiri tidak begitu menonjol dalam dunia
cerpen Indonesia.
Ibnu Wahyudi
(pengajar FIB Universitas Indonesia): Sebagai cerpenis sekaligus
wartawan ia produktif sehingga sifat kewartawanan yang mementingkan
realitas begitu menonjol dalam cerpen-cerpennya. Namun akibatnya
karya-karyanya tidak menunjukkan keunikan sehingga kurang mampu
berbicara tentang siapa dirinya. Karyanya belum menemukan semacam gaya
khas sehingga tidak mengangkat dirinya dibanding cerpenis lain.